Jelajah Budaya, Kuliner, dan Kerajinan Dalam Bingkai Bisnis

Senyum community memberikan wadah untuk anak-anak panti dalam mengembangkan jiwa entrepreneur. Wisata bisnis yang dilaksanakan Sabtu 16 juli 2011 telah banyak memberikan warna baru di hati peserta yang mengikutinya. Beberapa bisnis yang dikunjungi dalam wisata bisnis diantaranya : The house of lawe yang merupakan bisnis tenun yang diprakarsai oleh lima wanita. Bisnis yang terbilang aneh dan unik karena tenun sudah jarang diminati oleh pasar domestik. Selain itu, pengrajin tenun pun sudah banyak yang beralih profesi, tinggal segelintir orang yang mau meneruskan usaha tenun ini.

Tenun menjadi tradisi yang nyaris punah. Berawal dari kekhawatiran inilah LAWE lahir. Dengan kreativitas tinggi  LAWE mampu meningkatkan nilai jual tenun di pasaran. Mbak Nindiyah sebagai pendiri sekaligus pengelola LAWE menuturkan, untuk memulai bisnis harus berawal dari mimpi yang kuat, memperbanyak relasi dan lakukan sekarang. The house of LAWE merupakan contoh bisnis yang tidak hanya mengedepankan profit, tapi juga membawa misi sosial budaya.

 

Kuliner-Aksesoris

Melihat banyaknya minat anak panti asuhan Al Quddus dalam bisnis kuliner, maka rumah makan Rajab menjadi sangat menarik untuk dikunjungi. Rumah makan rajab memberikan warna berbeda dalam kuliner jogja karena kekhasan masakannya, yaitu penyetan ala Sumatra yang berbeda dari penyetan ala Jogja biasanya. Bisnis ini telah dirintis sejak tahun 2006 tepatnya dibulan Rajab, saat “ia” masih semester 2, dan diawali dengan bisnis katering. tutur mas Firman sebagai pemilik rumah makan Rajab. Mas Firman berpesan “Berbisnislah sesuai passion yang dimiliki, awal berbisnis harus benar-benar diseriusi, jangan setengah-setengah, caranya dengan manajemen waktu.”

Dan Yang Terakhir adalah Rumah warna. Rumah Warna merupakan perusahaan tas dan aksesoris yang sudah banyak dikenal masyarakat terutama anak-anak dan remaja. Omsetnya kini mencapai ratusan juta perbulan. Pak nanang sebagai owner perusahaan mengungkapkan bahwa semuanya tidak datang secara tiba-tiba, ada proses, ada resiko, ada tantangan hingga beliau mencapai titik ini.

Akhirnya, semua ilmu yang telah didapatkan dari wisata bisnis akan sia-sia tanpa ada aplikasi dan pengamalan. Sampai jumpa di program entrepreneur selanjunya ya ^^

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *