Mengisi Ruang Antara Tangis dan Tawa: Kisah Keteguhan Hidup Nabilla Queen Cintaumbara

Jalan kita bersama, tentukan arah langkah, satu makna memutar roda, menepis masa lalu, terang engkau menuju—menatap hari esok yang baru.
Esok – The Adams

Lahir dalam keluarga yang harmonis dan utuh merupakan sebuah anugerah yang luar biasa bagi setiap manusia. Meski bukan sesuatu yang mutlak, kondisi keluarga yang demikian memungkinkan seorang anak tumbuh dengan baik dan memaksimalkan bakatnya. Anugerah ini kemudian dirasakan oleh seorang bayi kecil yang cantik, meski kelak tak akan lama, sebuah cerita yang panjang akan menjelaskan dan mengubah segalanya.

***

Saat itu, 15 Maret 2011, seorang bayi kecil lahir. Dia adalah anak pertama dari sepasang bapak ibu yang bahagia dan penuh cinta. Seorang bayi perempuan yang mengubah hidup seorang laki-laki dan perempuan, seorang suami dan istri, menjadi bapak dan ibu. Bayi cantik itu kemudian diberi nama Nabilla. Setelah itu, kasih sayang tak terhingga tercurah untuk sang anak. Kerja kedua orang tuanya semakin giat. Pagi dan malam tak kenal waktu dihabiskan untuk mencari nafkah guna membesarkan sang anak dengan baik. Sang bayi perempuan telah mematikan rasa lelah kedua orang tuanya, waktu dan umurnya dipacu untuk membahagiakan sang anak; tanpa lelah.

Suatu malam, setelah hari yang panjang dan melelahkan, keluarga kecil bahagia itu berkumpul di ruang keluarga. Televisi menyala dan sinarnya menerpa wajah keluarga bahagia di hadapannya. Semua bahagia, tertawa-tawa, dan saling bertukar cerita. Kedua pasangan tadi masih diselimuti rasa bahagia atas seorang bayi cantik yang mengubah hidup mereka, meski bulan demi bulan telah berlalu.

Malam di depan televisi tadi telah selesai dan pagi telah menjelang. Matahari menyambut, mengajak setiap insan bergerak-bekerja. Ayah Nabilla telah bersiap, seperti biasa pagi itu sang ayah mencium Nabilla dan sang istri, sebelum kemudian bergegas pergi bekerja. Semangat membuncah di dada sang ayah. Seorang istri yang sangat ia cintai tengah menggendong anak yang manis menemaninya hingga bersiap pergi. Tangan dilambaikan, gas di tarik, dan doa mengalir seiring dengan motor yang hilang di ujung jalan.

Tak ada firasat apapun. Sang istri kembali masuk ke dalam rumah, bersiap menyuapi sang anak. Waktu berlalu begitu saja, sampai telpon berdering di siang hari. Dari ujung telepon, terdengar suara lelaki yang coba mengkonfirmasi sesuatu. Sang anak diletakan di kasur, sementara sang istri terus menerima telepon. Tak lama air mata menetes, sang istri ambruk. Bayi Nabilla masih terlalu kecil untuk memahami reaksi di sekitarnya. Mimpi buruk itu menjadi kenyataan, sebuah kecelakaan nahas melibatkan ayah dari Nabilla dalam perjalanan bekerja. Informasinya jelas, sang ayah ditemukan meninggal di lokasi kejadian.

Kita sering melihat kecelakaan nahas di jalanan. Semua orang berkerubung, pengendara melambatkan laju kendaraannya, sementara warga di sekitar TKP melambaikan tangan tanda kendaraan harus terus melaju—jangan melambat dan membuat arus menjadi macet. Polisi datang meminta informasi, sementara desing sirine ambulan terdengar semakin dekat. Dalam kondisi ini, beberapa orang kembali melanjutkan aktivitasnya, beberapa pengendara sudah kembali berjalan, sementara yang lain akan segera bubar seiring dengan diangkutnya jenazah. Kejadian ini akan menjadi cerita di sekitar TKP untuk beberapa minggu ke depan sebelum dilupakan dan digantikan oleh kecelakan yang lain. Sementara itu, sebuah keluarga kehilangan kepala keluarga, kehilangan tulang punggung, dan cerita ini akan menyakitkan selamanya.

Keluarga itu barangkali adalah Nabilla dan sang ibu. Tangis mereka tak akan usai, meski waktu akan menyembuhkan, tetapi memori pahit itu akan lekat selamanya. Terlebih untuk Nabilla yang belum memiliki kesadaran untuk mengenali dan menangkap kenangan bersama sang ayah. Nabilla masih terlalu kecil untuk memahami semua itu, bicara saja belum dia mulai.

Setelahnya, waktu berlalu, Nabilla tumbuh menjadi anak yang tetap percaya diri dan cukup bahagia. Sang ibu sadar, kini dia hanya sendirian membesarkan sang anak. Kondisi ini membuatnya perlu bekerja untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. Sang ibu juga selalu mengusahakan mewujudkan segala keinginan Nabilla. Semua dilakukan semata-mata agar Nabilla bisa bahagia dan jauh dari memori pahit beberapa tahun lalu.

Dalam kesendirian, ibu Nabilla tak pernah merasa kesepian. Selain Nabilla, sang kakak juga kini menemani keluarga yang ditinggal sang kepala keluarga. Bersama sang kakak, ibu Nabilla mencoba memberikan kasih sayang dan perhatian untuk tumbuh kembang Nabilla kecil. Sehari-hari sang ibu bekerja, sepagi mungkin ia telah pergi bekerja dan bertepatan dengan matahari yang tergelincir, sang ibu kembali pulang. Sementara itu, sang kakak berada di rumah, menemani Nabilla. Ia akrab dipanggil oleh Nabilla, sebagai bude.

Waktu terus berjalan, seiring dengan Nabilla yang sudah besar. Umurnya 10 tahun saat itu. Ia tumbuh dengan baik. Di sekolah dan di lingkungan rumah ia dikenal sebagai anak yang ceria dan penuh semangat. Sang ibu dan bude berhasil membuatnya tumbuh tanpa rasa kehilangan masa lalu yang menghambatnya. Ia senang bercerita dan kehadirannya selalu ditunggu oleh teman-temannya. Nabilla punya dua rutinitas; pertama, tentu saja sekolah, kedua, ia selalu menunggu ibunya pulang dengan duduk di teras rumah.

Satu jam sebelum kepulangan dari pekerjaan, sang ibu selalu menelpon untuk memberi kabar, “Kakak, satu jam lagi ibu pulang!” mendengar kabar yang demikian Nabilla langsung pergi duduk di teras hingga ibunya pulang. Aktivitas ini membuatnya senang, tak sedikitpun bosan menyelimuti. Hari demi hari berlalu, pelukan demi pelukan, tawa demi tawa, dilewati bersama.

Kebersamaan terus terjalin meski dalam kondisi dan waktu yang sulit. 2020 menjadi waktu yang tak terlupakan bagi semua orang. Pandemi dari virus Covid-19 menghantam dunia termasuk Indonesia. Semua kegiatan dibatasi, tiap orang dipaksa berdiam diri di dalam rumah. Kondisi sungguh sulit, sebab mencari nafkah menjadi hal sulit yang semakin sulit. Ancaman kesehatan membuat semua terpaksa dikurung oleh ketakutan. Meski begitu, ibu Nabilla terus mencoba memberikan yang terbaik untuk Nabilla meski di waktu yang sulit hingga, ibu Nabilla jatuh sakit.

Setahun pandemi berjalan, di 2021, ibu Nabilla ambruk. Kondisi kesehatannya memburuk. Ia menjadi lunglai dan tak mampu bergerak, meski senyum di wajahnya tetap merekah. Senyum yang tulus barangkali adalah satu-satunya hal yang bisa diberikan kepada Nabilla di tengah kondisi ibu yang tidak memungkinkan bergerak lebih banyak. Hasil analisis kesehatan menyatakan sang ibu terkena penyakit asam lambung yang cukup akut.

Nabilla dan sang bude setia menemani dan menunggu sang ibu pulih. Perhatian, doa, dan tangis terus mengalir untuk kesehatan sang ibu. Nabilla tetap ceria, dia tidak berpikir hal buruk yang lebih jauh. Sebab sang ibu adalah sumber kebahagiaannya, maka tak ada pikiran buruk, hanya kebaikan yang tertuju bagi sang ibu.

Sekali lagi kondisi ibu semakin memburuk hingga diperlukan penanganan di rumah sakit. Dikarenakan situasi pembatasan kerumunan, rumah sakit tak mengizinkan ada besuk atau kerabat yang menunggu. Nabilla dan sang bude hanya menunggu di rumah, mengirim doa terbaik. Genap tujuh jam berlalu sejak sang ibu dirawat di rumah sakit, kabar duka jatuh ke rumah Nabilla. Ibu Nabilla dinyatakan meninggal dunia dengan vonis covid. Hal ini membuat proses pengurusan jenazah menjadi tertutup dengan protokol kesehatan. Nabilla dan Sang Bude tak sempat melihat ibu yang terakhir kalinya. Memori terakhir Nabilla soal ibu hanyalah pemakaman, tak ada kesempatan melihat wajah sang ibu bagi Nabilla.

Sejak saat itu semua berubah. Nabilla menjadi pemurung. Tak ada lagi keceriaan, tak ada lagi canda tawa, Nabilla menjadi pendiam dan sering mengurung diri. Terlepas dari kondisi pandemi, Nabilla menjauh dari pertemanannya. Lebih buruk, pertanyaan dari orang sekitar termasuk teman-temannya terkait keberadaan orang tua Nabilla menjadi hal yang sulit diterima oleh Nabilla.

“Saya masih ga percaya bunda.” Itu adalah hal yang seringkali diucapkan Nabilla kepada sang bude. Panggilan bude telah berubah menjadi bunda. Bunda menjadi satu-satunya pegangan Nabilla di saat tersulit yang ia lewati. Sang Bude juga telah meneguhkan dirinya, membangun komitmen dalam hatinya untuk menjadi pengganti bapak dan ibu Nabilla.

Nabilla masih sering duduk menyendiri di depan teras rumah, menunggu sang ibu. Ia bahkan tak mengizinkan bundanya untuk menemaninya. Nabilla mulai akrab dengan kesendirian. Sesekali ia bercerita bertemu sang ibu di dalam mimpi. Dalam kesempatan yang lain Nabilla mengaku mencium aroma parfum sang ibu. Sang bude semakin prihatin, perubahan signifikan yang cepat itu mengkhawatirkan sekaligus dapat dipahami. Hal yang sangat wajar terjadi pada anak seusia Nabilla ketika menerima kenyataan yang begitu pahit.

Dua bulan sejak ditinggal sang ibu, Nabilla menunjukan perubahan perilaku yang drastis. Sang bude terus berdoa dan mencari pertolongan untuk menyelamatkan perkembangan Nabilla. Jelas ia tak ingin Nabilla berakhir lebih buruk. Sepasang mata merah yang basah, senyum pahit, dan kesunyian menjadi pemandangan yang umum di rumah Nabilla. Semua sungguh berubah.

Hingga suatu ketika, rasa-rasanya cahaya diujung terowongan yang gelap itu mulai nampak. Melalui seorang kerabat, Nabilla dan Sang Bude diminta untuk berkomunikasi dengan sebuah lembaga sosial, Yayasan Senyum Kita namanya. Sang Bude tak tahu banyak, bermodal keyakinan dan semangat untuk kembalinya Nabilla menjadi lebih baik, Sang Bude mencoba meminta dampingan Yayasan Senyum Kita untuk Nabilla.

Setelah melalui serangkaian proses penilaian dan pertimbangan terhadap Nabilla, Januari 2022, Nabilla resmi menjadi dampingan Yayasan Senyum Kita. Pertautan awal yang mungkin akan membawa Nabilla pada kondisi yang luar biasa. Sesuatu yang belum terbayangkan sebelumnya. Beberapa pendampingan mulai dilakukan, mulai dari psikis, belajar, hingga minat dan bakat. Nabilla mulai membuka diri, intensitas pertemuan Nabilla dengan berbagai pendamping dari Yayasan Senyum Kita membuatnya mulai membuka diri.

Tak dipungkiri, Nabilla terpuruk. Namun dibalik itu, ada luapan emosi yang besar. Emosi yang apabila dikelola dengan baik mampu menjadi daya ledak untuk mengejutkan siapapun. “Nabilla ingin menjadi penari dan pramugari.” Keinginan tersebut dengan cepat ditangkap dan coba disalurkan. Sejak saat itu, mencoba berfokus kepada minat tarinya, kelas tari dibuka dan Nabilla terlibat.

Setelah itu, perlahan namun pasti Nabilla menunjukan gejala yang baik. Ia mulai bangkit dari tumpukan luka dan deritanya dari masa yang lalu. Tumpukan luka yang telah mengubah wajah Nabilla. Tumpukan luka yang mampu berubah menjadi dendam jika tak disembuhkan. Nabilla perlahan sembuh—sembuh dari kekangan teror kehilangan.

Meski tak sepenuhnya, senyum ceria mulai mekar di wajahnya. Pipinya kembali merah berseri, matanya memancarkan semangat yang telah lama hilang. Sang bude yang dipanggil Nabilla sebagai bunda barangkali menjadi sosok yang paling melihat perubahan itu. Sang Bude telah menjadi sosok yang menyelamatkan sebuah talenta yang selama ini terpasung.

Perlahan namun pasti, Nabilla kembali ke permukaan. Kini, memasuki tahun 2023, pada usianya yang memasuki 12 tahun, Nabilla menjadi sosok yang lekat dengan label “penari berbakat”. Berbagai perlombaan telah diikutinya. Ia mulai dikenali banyak orang lewat bakatnya. Bersama bundanya dan Yayasan Senyum Kita, Nabilla kembali mendaki gunung cita-cita yang selama ini tertutup rimbunnya semak-semak.

***

Ada banyak kejadian yang mengubah wajah dan semangat anak di Indonesia. Menjadi gurita bagi impian dan cita-cita mereka. Hak untuk berpendidikan, bermain, dan bahagia seharusnya menjadi prioritas dalam tumbuh kembang anak, apapun kondisinya. Sebab jika tidak jatuh kepada mereka, kepada siapa lagi masa depan akan kita titipkan?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *