Berjuang Menuntut Ilmu Bersama Ilma

Valentine merupakan hari spesial yang dirayakan banyak orang pada tanggal 14 Februari setiap tahunnya. Hari itu orang-orang merayakan cinta dan kasih sayang mereka kepada orang yang mereka cintai. Begitu pula bagi pasangan suami istri satu ini. Tanggal 14 Februari 2007 merupakan hari spesial karena buah cinta mereka telah lahir dengan sehat dan cantik. Bayi cantik ini diberi nama Zayyinnaa Milladunka Ilma. 

Semasa bayi hingga menempuh pendidikan pertamanya di TK, Ilma dan kedua orang tuanya tinggal di sebuah kontrakan yang terletak di Jogja. Ayah mempunyai sebuah usaha barang bekas yang lumayan besar di Jogja kala itu. Namun ketika memasuki sekolah dasar, Ilma pindah sekolah di Gunungkidul. Dulu, simbahnya mempunyai sebidang tanah yang kemudian diberikan kepada ayah dan ibu Ilma. Di tanah tersebut dibangunlah sebuah rumah yang hingga saat ini menjadi tempat tinggal mereka.

Ilma merupakan anak pertama dari dua bersaudara. Adiknya berjarak usia 4 tahun dengannya. Ibu bertugas mengurus anak-anak di rumah. Sedangkan Ayah harus tetap mencari nafkah dan mengurus usahanya di Jogja. Keadaan tersebut membuat Ayah tidak selalu ada di rumah, hanya sesekali saja pulang menengok anak istrinya. 

Saat memasuki kelas 1 SMP, Ilma mendapatkan ajakan dari temannya untuk masuk pesantren. Lokasinya juga tak jauh dari tempat tinggalnya. Dengan izin ayah dan ibu, akhirnya Ilma masuk pesantren. Karena rumahnya dekat, Ilma masih sering pulang, untuk makan dan mandi di rumah. Istilahnya adalah Santri Kalong. Jadi, Ilma hanya mengikuti kegiatan pesantren saja, tanpa harus menetap dan melakukan segala aktivitas hariannya di pesantren. 

Sebelum maghrib, Ilma harus sudah berada di pesantren. Kemudian mengikuti kegiatan mengaji setelah maghrib sampai selesai. Setelah itu lanjut belajar, mengerjakan tugas sekolah dan tidur. Bakda subuh, dilanjutkan dengan kegiatan mengaji lagi. Pukul 6 Ilma pulang ke rumah untuk sarapan, mandi dan persiapan berangkat sekolah. Kegiatan tersebut Ilma jalankan setiap hari.

Meskipun kegiatan di pesantren cukup padat, namun Ilma mampu bertahan hingga saat ini. Teman-teman yang suportif di pesantren menjadikan Ilma makin bersemangat dalam menjalankan aktivitas tersebut. Ilma juga percaya kalau semua yang ia jalankan sekarang, serta segala capek yang ia rasakan akan mendapatkan berkah dari Pak Kyai nya di pesantren. 

Awalnya, kehidupan Ilma baik-baik saja. Hingga sebuah musibah datang menghampiri keluarganya. Usaha Ayah yang terbilang sukses, semuanya berubah drastis. Saat itu, wabah corona menyerang dunia ini dan menjadi penyebab keadaan tersebut. Usaha Ayah tak mampu bertahan di era pandemi. Pengeluaran dan pemasukan tidak sebanding, sehingga membuat Ayah harus berhutang kesana kemari untuk menutup segala kekurangan.

Ujian ini terasa sangat berat untuk keluarga Ilma. Dengan semudah membalikkan telapak tangan, usaha Ayah juga dengan mudahnya bangkrut begitu saja. Ayah Ilma stress memikirkan keadaan tersebut sampai didiagnosa depresi. “Dajjal ada di kepalaku”, teriak Ayah sambil memegang kepala dan meng-cutter nya. Hal tersebut sering sekali dilakukan Ayah di rumah. Ayah selalu merasa ada dajjal yang menguasai kepalanya, itulah penyebab beliau menyakiti diri sendiri.

Melihat keadaan tersebut, Ibu Ilma sangat bingung dan tidak tau apa yang harus dilakukan. Bahkan, Ibu juga sering menjadi sasaran ketika Ayah kambuh. “Ayah kalau kambuh segala barang yang ada di rumah diobrak abrik, saya pun sering diseret sama Ayahnya ilma”, ujar Ibu ilma. Akhirnya ibu ilma berusaha untuk membawa suaminya ke puskesmas agar bisa mendapat pengobatan. 

Suatu hari, seorang teman perjuangan ayahnya kala di Jogja memberikan tawaran kerja untuk Ayah ilma. Tempat kerjanya berada Jogja, di toko bangunan. Tanpa berpikir Panjang, diterimalah tawaran tersebut. Namun sang pemilik toko memberi syarat, Ayah ilma harus tetap pulang ke rumah, tidak boleh mencari kost di dekat tempat kerja. Pemilik toko memang sudah mengetahui kondisi Ayah ilma. 

Ibu ilma sungguh berjuang dalam proses pengobatan suaminya. Ayah ilma tak pernah mau minum obat karena ia merasa tubuhnya sehat. Lalu, ibu punya ide untuk menyisipkan obat ke makanan dan minuman yang disuguhkan untuk suaminya agar obat itu bisa tetap masuk ke tubuh suaminya. Hal itu dilakukan ibu selama satu tahun berturut-turut. Usaha memang tak pernah menghianati hasil. Perlahan kondisi ayah membaik dan kambuhnya tidak sesering dulu. 

Selama Ayah Ilma kambuh di rumah, ternyata adik Ilma sering melihat kejadian tersebut dan berakibat pula pada sikapnya. Adik suka marah-marah jika keinginannya tak dituruti, emosinya sering tidak dapat dikendalikan, bahkan hingga mogok sekolah. Kondisi tersebut menjadikan Ibu ilma semakin down. Merawat Ayahnya saja belum tuntas, ditambah lagi adiknya yang hampir sama tingkahnya dengan sang ayah.

Beruntungnya, saat itu Ilma berada di pondok. Jadi, Ilma tidak sesering adiknya melihat tingkah ayah ketika kambuh. Ibu meminta Ilma agar fokus dengan kegiatan pondok dan sekolahnya. Ibu sangat beruntung mempunyai anak sebaik Ilma. Ia sangat pengertian dengan kondisi keluarganya saat ini. Satu-satu nya harapan ibu saat ini ya hanya Ilma.

Upah kerja Ayah di toko bangunan ternyata tidak cukup untuk menghidupi keluarganya. Ibu harus putar otak lagi agar kebutuhan sehari-hari bisa tetap terpenuhi. Akhirnya Ibu berjualan es tape di pos ronda dekat rumahnya. Ilma juga sering membantu Ibu berjualan. Hasil berjualan es tape juga tak seberapa, tapi lumayan untuk menambah pendapatan. 

Saat ini Ilma sedang menempuh pendidikan di SMK Mahisa Agni kelas 11. Hobinya menulis puisi. Beberapa kali lomba ia ikuti. Namun baru sekali menang dan karyanya diterbitkan menjadi sebuah buku sebagai hadiah dari lomba tersebut. Hobi Ilma didukung penuh oleh kepala sekolah. Beliau sering memberikan informasi mengenai perlombaan menulis dan membiayai uang pendaftarannya. 

Ilma mempunyai keinginan untuk melanjutkan ke perguruan tinggi dengan mengambil prodi Psikologi. “Aku ingin menolong orang-orang yang kondisinya seperti ayah, agar tidak ada lagi yang merasakan kondisi itu”, ujar Ilma. Ilma mulai saat ini berkomitmen untuk rajin belajar agar bisa mendapatkan beasiswa dan bisa diterima di kampus impiannya. Semoga cita-citanya dapat tercapai dan tujuan mulianya dapat terlaksana kemudian hari.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *