Karena tak lagi memiliki kendaraan, untuk membawa Heza ke rumah sakit dari rumah, sang ibu melakukan banyak hal. Satu kali mereka pergi ke rumah sakit dengan bus, di lain waktu menggunakan becak, atau jika kondisinya sangat terdesak, mereka harus menebeng dengan tetangga yang menuju satu arah ke Dr. Sardjito. 

Perjuangan yang tidak sederhana itu akhirnya membuahkan hasil. Tanda-tanda baik mulai muncul pada Heza. Bicaranya mulai baik dan jalannya semakin lancar. Ini jelas membuat kedua orang tuanya bahagia bukan main. Mereka akan segera melihat anaknya bertumbuh kembang seperti anak-anak seumurannya. 

Meski sudah membaik, lagi-lagi perkembangannya cukup stagnan. Ini membuat kedua orang tuanya kembali bingung. Dalam situasi penuh keputusasaan itu, seorang terapis dari Dr. Sardjito memberikan saran untuk orang tua Heza. Menurut terapis itu, saatnya Heza disekolahkan. Mungkin bertemu banyak orang baru akan membantu perkembangannya.

Pencarian sekolah dimulai. Kedua orang tua Heza mulai mencari sekolah yang cocok untuk tumbuh kembang Heza. Melalui beberapa kenalan, didapatkan rekomendasi untuk menyekolahkan Heza di sekolah milik Yayasan Helen Keller. Sekolah itu cukup mahal. Namun karena ada pihak yang membantu Heza, maka sekolah akan dijalani dengan gratis. Sebuah kemudahan untuk keluarga Heza.

Perlu diakui, Helen Keller merupakan sekolah yang baik. Heza senang bersekolah di sana. Perkembangannya pun cukup baik sejak TK hingga kelas 1 SD. Dibalik semua kemudahan itu, terdapat satu hal yang mengganjal perasaan orang tuanya. Saat itu Helen Keller belum bisa memberikan kelas untuk Agama Islam. Hal ini menimbulkan keresahan di hati sang ibu, ia ingin anaknya untuk belajar Agama Islam.

Atas satu dan dua pertimbangan lain, Heza pindah sekolah. Destinasi selanjutnya untuk Heza adalah sebuah SLB negeri di Yogyakarta. Saat itu Heza kelas 3 SD. Seperti diketahui, Heza merupakan penyandang tuna rungu. Namun di sekolah barunya, Heza digolongkan dalam kelas C atau penyandang tuna grahita. Meski berat, sang ibu hanya bisa menerima. Yang utama untuk saat ini adalah sang anak sekolah.

Semua guru bersikeras untuk menggolongkan Heza di tuna grahita, tapi tidak dengan seorang guru honorer di sekolah Heza. Ia mati-matian bersikeras bahwa Heza bukanlah tuna grahita seperti yang selama ini dialamatkan pada Heza. Nama guru itu adalah Ibu Pur. Kondisi ini menimbulkan gejolak dalam internal sekolah yang berujung dikeluarkannya Bu Pur dari sekolah.

Ketika keluar dari sekolah, Bu Pur berpesan kepada orang tua Heza, “Tolong bertahan dulu di sekolah ini. Tunggu sampai saya punya sekolah sendiri, nanti masukan Heza ke sekolah saya. Tak perlu khawatir soal biaya, intinya sabar dahulu.”

Kurang lebih lima bulan berjalan setelah keluarnya Bu Pur, sekolahnya pun dibuka. Sekolah baru milik Bu Pur dinamai SLB Qothrunnada. Sekolah baru itu baru memiliki satu buah kelas yang terdiri dari 7-8 anak, termasuk Heza. Kelas itu merupakan kelas para pelopor awal Qothrunnada. Sejak saat itu perkembangannya Heza jadi semakin membaik. 

Bersama Qothrunnada Heza mendapatkan pendampingan pendidikan yang sesuai dengan kebutuhannya.Bakatnya dihargai dan dieksplorasi, membuat Heza semakin terampil dalam bakatnya; desain grafis. Kemajuan hebat lainnya adalah, Heza berkenalan dengan sebuah lembaga yang bergerak pada pendidikan anak; Yayasan Senyum Kita.

Pertemuan dengan Yayasan Senyum Kita memberikan angin segar untuk pendidikan Heza. Lewat YSK, pendidikan Heza bisa dibantu untuk terus berlanjut. Ini merupakan berkah tersendiri, sebab secara ekonomi, uluran semacam ini sangat bermanfaat bagi keluarga Heza.

Ketika mengingat-ingat masa lalu, sang ibu pernah terpikir untuk tidak mengakui Heza sebagai anaknya. Sebuah pikiran yang muncul karena lelah dan hampir putus asa. Namun sebuah hidayah muncul dan memberikan keyakinan lebih besar kepada orang tua Heza untuk mengurus Heza lebih baik. Pikiran itu selamanya ia sesali, ia tak pernah bermaksud seperti itu. Terbukti hingga kini Heza berusia 18 tahun dan kelas 11 SMA. Sang ibu selalu mendampingi Heza untuk mengembangkan minat dan bakatnya pada mata pelajaran, Bahasa Inggris dan Matematika. Terbaru, Heza mampu berbahasa Jepang secara otodidak.