Mengisi Ruang Antara Tangis dan Tawa: Keberanian Yang Menyelamatkan Nadeva

Saat itu pertengahan 2012. Ramalan dunia yang dipertegas lewat film berjudul “2012” soal kiamat tidak atau mungkin belum terjadi. Bumi tetap berputar dan dunia terus berjalan. Siang itu panas sekali, meski begitu jalanan tetap penuh sesak. Orang masih saja berlalu lalang, pergi menghidupi kesibukannya masing-masing. 

Di bawah terik matahari aspal terlihat sangat panas. Kecelakaan pada siang bolong adalah salah satu bentuk kecelakaan yang mengerikan, sebab kulit dan dagingmu akan langsung bergesekan dengan permukaan yang amat panas. 

Kiamat dan kecelakaan di siang bolong barangkali adalah dua hal mengerikan yang tak siapapun ingin mengalaminya. Tapi bagi seorang ibu yang sedang mengandung anaknya, ia lebih baik mengalami dua hal itu. Sebab, ia pernah ditinggal pergi dan menjadi kesepian. Sungguh itu lebih menyakitkan daripada kiamat dan kecelakaan di siang bolong (baginya).

***

Dihadapan suaminya, ibu hamil tadi menatap penuh harap. Pagi itu, sang suami berpamitan. Sebuah panggilan kerja di luar kota mengharuskan mereka berjarak untuk waktu yang belum ditentukan. Sejak semalam mereka berdua menghabiskan waktu panjang untuk berbincang. Di Yogyakarta lapangan pekerjaan sedang tak banyak. Upah juga menjadi satu hal yang membuat pertimbangan bekerja di kota ini menjadi tidak kuat. Sementara itu, seorang bayi kecil telah tumbuh dan hidup di perut sang istri.

“Kamu mau ke mana mas?”

“Ada ajakan kerja di luar kota.”

“Di mana?”

“Aku juga belum tau persisnya dik, yang penting aku ikut dulu, aku keluar dulu dari sini,”

“Tenang saja, ini tak akan lama.”

Perbincangan terus berlanjut sembari sang istri melipat satu per satu baju suaminya. Sementara itu sang suami nampak gusar melihat ke luar jendela. 

“Mas?”

“Mas?”

“Mas! Ono opo to?”

Sang istri kemudian bangkit, mengangkat tas yang akan dibawa suaminya ke atas kursi, lalu mendekati suaminya. 

“Mas?”

Sang istri kembali memanggil suaminya.

“Doakan semua lancar ya dik, ini semua demi anak kita.”

Pungkas sang suami.

Malam jatuh semakin dalam, dan pasangan ini terlelap jauh dalam tidurnya.

Malam habis dicuri sang fajar dan pagi telah dipajang sebagai alasannya. Seperti sebelumnya, pagi itu adalah pagi berpamitan. Dalam waktu yang sangat cepat semua berjalan; berpamitan, berpelukan, jemputan datang, sang suami menghilang di ujung jalan, sang istri kembali masuk rumah, dan waktu berjalan kembali normal.

Kini ia sendirian, memeluk perutnya sendiri dan menunggu suaminya kembali pulang. Waktu terus berjalan dan semua harus dijalankan seperti biasanya. Tak bisa dipungkiri, rasa rindu jelas membuncah, memukul-mukul dadanya. Di saat yang sama, sepasang kaki menendang-nendang perutnya. Sang suami telah lama tak pulang dan bayi kecil itu kini semakin mendekati waktu kelahirannya. 

Nomor telepon suami yang dulu ditinggalkan untuk dihubungi oleh istrinya telah lama tidak aktif. Bukan lagi perkara rindu, uang yang ditinggalkan sang suami untuk istrinya tak lagi tersisa banyak. Sedangkan biaya persalinan jelas tak murah. Berbagai kenalan coba dihubungi untuk mengetahui keberadaan sang suami, namun hingga anak itu lahir, kabarnya tak lagi terdengar.

Ketika bayi itu lahir, rasa bahagia dan putus asa, hampir sama besarnya. Bagaimana cara membesarkan anak ini? Sang istri tak bekerja dan angan-angan pekerjaan di luar kota malam itu, adalah satu-satunya bayangan soal masa depannya; suaminya adalah bayangan soal masa depannya; soal membesarkan anaknya.

Sang suami betul-betul tak pulang, kabarnya saja tak dapat. Satu-satunya hal yang membuat sang ibu tetap hidup adalah anaknya. Ia tak bekerja, hal ini membuat masa depan terlihat amat gelap dan menakutkan. Setelah banyak dialog dan opsi, ia memilih untuk masuk ke panti asuhan bersama anaknya. Panti asuhan menjadi opsi yang logis dipilih dalam kondisinya saat itu. Ia hidup bersama puluhan anak balita dan bayi lain, bahkan banyak diantaranya yang merupakan anak buangan. Tak jelas siapa bapak dan ibunya.

Ibu tadi memeluk sang anak, “Apapun yang terjadi, kamu punya ibu nak.”

Sang anak tumbuh menjadi balita yang menyenangkan. Ia percaya diri, ramah, dan gemar membantu siapapun. Orang mengenalnya dengan nama Nadeva. Saat balita itulah, sang ibu bertekad untuk mencari pekerjaan. Tekad yang membawa mereka keluar dari panti asuhan.  

Sejak saat itu sang ibu mulai bekerja, meskipun pekerjaannya sering berganti. Mulai dari menjaga kios di pasar hingga menjadi PRT. Hari demi hari dilalui bekerja demi Nadeva. Semua dia lalui meski ganjarannya, Nadeva sering sendirian di rumah. Ia khawatir Nadeva akan menjadi penyendiri dan tidak memiliki semangat dalam mengarungi kehidupannya. Sang ibu yang kini menjadi PRT justru menghabiskan lebih banyak waktu bersama anak majikannya. Ia melihat anak itu lalu teringat Nadeva. Ingin sekali ia menghabiskan waktu bersama Nadeva, mengawal tumbuh kembangnya. Meski nenek dari Nadeva sering menemaninya, tetapi keinginan sang ibu untuk ada disekitar Nadeva tetap tak pudar.

Satu hal yang sang ibu sadari, Nadeva adalah anak yang istimewa. Ia tak pernah mengeluh, tak pernah pula menanyakan ayahnya, ia adalah bentuk paripurna dari pelipur lara hati ibunya, penghapus peluh dari hari yang melelahkan. Nadeva menjadi anak yang sangat mandiri, ia mengurus semua keperluan berangkat sekolahnya sendiri, membuat sang ibu semakin bangga.

Meski berjalan baik, biaya kehidupan tetap banyak dan seringkali meningkat. Di waktu yang bersamaan, Nadeva siap masuk sekolah dasar.  Pada situasi ini, lewat beberapa rekomendasi, ibu dari Nadeva berkenalan dengan sebuah lembaga yang dikenal kerap membantu anak yang kurang beruntung. Orang menyebut lembaga ini sebagai Yayasan Senyum Kita. Sejak itu, beberapa pendampingan hadir ke rumah Nadeva. Selain mendapatkan bantuan pendidikan, Yayasan Senyum Kita turut melakukan pemantauan atas pendidikan Nadeva. Hal ini jelas membantu mengurangi beban pikiran sang ibu.

Pertemuan dengan Yayasan Senyum Kita membuat sang ibu kini punya kekuatan baru untuk menghidupi harapannya; Nadeva. Umur Nadeva semakin bertambah, sang ibu dan Yayasan Senyum Kita senantiasa menemani dan mendampingi tumbuh kembang serta pendidikan Nadeva. Tak disangka, Nadeva menaruh minat kepada seni tari. Namun keterbatasan membuat sang ibu belum dapat memberikan fasilitas atas keinginan tersebut. Bukan salah siapapun, ini hanya perihal waktu, sebab, Nadeva kini tak hanya termangu menunggu sang ibu pulang ke rumah. Di luar waktu sekolahnya, Nadeva kini bergabung dengan kelompok tari Yayasan Senyum Kita.

Tak ada rasa minder, tak ada rasa kecil. Nadeva hadir dengan semangat dan menunjukan tekad untuk mau dan maju. Sebuah tekad yang mencerminkan rasa semangat dan perjuangan sang ibu. Rasa sakit sang ibu kini punya penawar, Nadeva namanya. Terlepas dari semua yang telah terjadi, perjuangan membesarkan Nadeva selalu dipermudah dengan dipertemukan banyak hal baik. Nadeva kini telah tumbuh menjadi anak yang percaya diri dan ceria. Membunuh salah satu ketakutan terbesar ibunya; tak mampu melihat Nadeva tumbuh besar dengan bahagia, sebagaimana anak seumurannya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *