Wahyu Setiawan Sang Atlet yang Tak Kenal Menyerah

DSC01593
Wahyu Setiawan

“ Wahyu melangkah untuk mencapai apa yang diinginkan tetapi Wahyu harus berlari lebih kencang ntuk mendapatkannya. Meski kerikil dan jalanan terjal akan menghalangi setiap langkah kakinya. Tapi Wahyu takkan menyerah!!”

            Wahyu seorang atlet lari yang semangat menuntut ilmu dan belajar. Sebuah kecelakaan menimpa Wahyu saat berumur 4 tahun yang menyebabkan mata kirinya kehilangan fungsinya. Wahyu sempat bisa melihat dengan mata kanan, tetapi Allah punya kehendak lain. Sebuah bola kasti tepat mengenai mata kanannya yang menyebabkan penglihatanku kabur.

            Apakah dengan kondisi Wahyu seperti ini menyebabkan Wahyu patah semangat? Jawabannya TIDAK. Meskipun Wahyu kehilangan kedua matanya, Wahyu sama sekali tidak kehilangan semangat belajar dan sekolah. Setelah kedua mata Wahyu kehilangan fungsinya Wahyu pindah ke sekolah luar biasa (SLB) meskipun keluarga Wahyu tidak menyetujui keputusannya. Wahyu harus tetap terus belajar dan bersekolah apapun yang terjadi. Wahyu tidak menghiraukan dengan anggapan orang-orang bahwa SLB adalah sekolah yang isinya orang gila. Wahyu belajar dari awal menyesuaikan diri, belajar menulis Braille dan belajar membaca.

            Sewaktu pagi, Wahyu gunakan untuk sekolah dan siang harinya Wahyu gunakan untuk membantu nenek untuk mencari pasir. Nenek Wahyu adalah seorang pencari pasir di sungai dekat rumah. Wahyu harus membantunya, demi mencari uang saku. Terkadang Wahyu membawa pasir dari sungai dengan keranjang kecil dan karung beras. Sedangkan saat sore menjelang, Wahyu berangkat mengaji, dan malamnya Wahyu gunakan untuk belajar.

            Wahyu suka berhitung. Matematika adalah pelajaran yang Wahyu sukai diantara pelajaran yang lainnya. Matematika membuatnya tenggelam asyik dengan dunia berhitung. Posisi rangking 5 besar selalu Wahyu dapatkan selama bersekolah di bangku sekolah dasar. Wahyu sangat bersemangat belajar, buktinya dalam waktu seminggu Wahyu sudah bisa menulis dan membaca huruf braille, meskipun membacanya belum begitu lancar. Selain itu banyak prestasi Wahyu antara lain juara 1 catur tingkat kabupaten,  juara 3 baca & cipta puisi, juara 1 lari tingkat nasional dan juara 2 catur individu tingkat asia pasifik.

            Beberapa tahun yang lalu Ibu wahyu meninggal sedangkan ayahnya pergi entah kemana. Sepeninggalnya ibu, Wahyu tinggal dengan ayah tiri dan adik tiri. Ayah tiri Wahyu menikahi kakak ibu Wahyu yang sering dikenal Budhe. Wahyu senang kini memiliki 2 adik tiri, Wahyu tidak peduli saudara kandung atau tiri karena semua adalah keluarga. Kondisi ekonomi keluarga Wahyu memanglah kurang sehingga Wahyu harus berusaha keras mencari uang dengan menjadi atlet. Meskipun begitu Wahyu berusaha keras menggapai impiannya, Wahyu tidak mau keterbatasan adalah halangan mencapi impiannya.

           

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *